Newsletter



Selamat datang ke blog personal Alfi Ramadhani. Moga apa yang tertulis di sini membawa kebaikan. Andai ada salah & silap, teguran anda semua sangatlah diharapkan. Selamat membaca! :)

Sunday, October 21, 2012

Pelangi Iman [part 2]

2 comments :

      [ saya belum baca Pelangi Iman [part 1] ]

      Tangan kiri laju menekan kalkulator mengira perbelanjaan Syarikat MA. Tangan kanan pula mencatat jumlah baki akaun untuk dimasukkan ke dalam balance sheet. Taklah susah sangat subjek perakaunan ni sebenarnya. Yang jadi susah bila tak faham konsep & tak tahu makna terma-terma yang digunakan di dalam perakaunan. Bila dah faham semua itu, insya-Allah senang saja nak selesaikan masalah-masalah yang diberikan.

      Waktu ini Iman bersendirian di bilik. Hanya kedengaran bunyi kipas berpusing menyamankan udara bilik & bunyi punat kalkulator ditekan-tekan beserta bunyi pecutan pensel di atas kertas. Rakan-rakan sebilik yang lain semuanya sudah keluar sejak awal pagi tadi lagi dengan hal masing-masing. Tiba-tiba tangannya berhenti seketika. Terasa seperti ada sesuatu yang tidak kena.


      Oh, butang play di VLC Media Player masih belum diklik. Patutlah sunyi benar suasana pagi ini. Playlist berjudul ‘Instrumental’ dipilih kemudian dimainkan. Seisi bilik diisi alunan irama sentimental. Piano & violin, forever perfect mates. Sweet couple gitu. Eh. Bibir terukir senyum sendiri apabila muzik mula masuk ke bahagian korus. Sangat indah & mengasyikkan !

      Astaghfirullah. Iman, jangan sampai lalai ya. Ustaz Saidin pernah pesan dulu, lagu nasyid sekalipun boleh dikira sebagai taghut seandainya boleh melalaikan diri daripada mengingati Allah, contohnya, bila Azan Zuhur berkumandang, kita masih terbuai mendengar lagu nasyid itu dan terlambat menunaikan solat Zuhur, maka siapa yang kita lebih agungkan? Lagu tersebut ataupun azan – panggilan dari Raja segala raja menyeru sembah para hamba-Nya ?

      Mohon dijauhkan diri kami daripada kelalaian dalam mengingati-Mu setiap masa ya Allah, amin.

      Kuliah akan bermula sejam dari sekarang. Iman meneruskan latih tubi yang berbaki.Soalan kali ini lebih mencabar. Mood untuk mengulangkaji terasa makin berkurang. Mata pula makin kuyu dibuai rasa mengantuk. Maklumlah, waktu dhuha begini memang sedap kalau dapat sambung tidur. Ah ! Tak boleh mengalah, Iman ! Kuatkan semangat ! Kalau tertidur sekarang nanti mesti terlambat hendak ke kuliah !

      Along. Tiba-tiba teringat Along. Entah bagaimana keadaan dia di studio sekarang ini. Nikmatnya kalau dapat minum secawan air kopi putih bancuhan Along waktu pagi sebegini. Walaupun hanya sekadar kopi 3-dalam-1, yang dia sendiri boleh bancuh, tapi entah kenapa tak sama macam yang along buat. Along pakai guna-guna ke apa? Haha. Ok, dah mengarut.

      Amin. Macam mana Amin di sekolah sekarang ya? Mengantuk macam dia jugakah? Haha. Apalah awak ni, Iman. Awak dengan adik awak tu sangat kontra, tahu? Awak selalu lambat masuk ke kelas, adik awak itu paling awal masuk ke kelas. Awak pelajar paling pasif di dalam kelas, adik awak itu pelajar paling aktif di dalam kelas. Awak suka dengar muzik yang bukan-bukan, adik awak itu pula hanya ada playlist zikir & tarannum Al-Quran di dalam MP3nya. Dan macam-macam lagilah. Konklusinya, Amin & Iman bukanlah manusia yang sama. Sekian.

      Ok. Iman rasa kepalanya sudah tak berapa nak betul. Cakap seorang-seorang, cakap ‘awak-awak’ dengan diri sendiri. Entah apa punya fi’il lah. Ini semua gara-gara rindu Along & Amin, mungkin ?

      Habis, tak rindukan mama Mila ke?

      Hmm.. Rindu. Siapa kata tak rindu. Dialah pengganti mama selepas mama sudah tiada. Dia jugalah yang selalu menelefon bertanya khabar, bertanya masalah, bersedia mendengar segala luahan & rintihan anak gadis yang seorang ini. Ya, dia rindukan mama Mila !

      Namun tak setebal rindunya pada Along & Amin. Darah daging sendiri, yang berkongsi suka dan duka setelah ayah & mama kembali kepada-Nya.

Allahummaghfirli wa li walidaiya warhamhuma kama rabbayaani soghiraa

Allah. Iman rindu mereka semua ya Allah. Kuatkanlah hati Iman untuk meneruskan kehidupan di sini, ya Allah. Iman hanya gadis biasa. Iman hanya insan yang lemah, ya Allah. Hanya Engkau yang Maha Perkasa & Maha Berkuasa. Teguhkanlah hati ini dalam perjuangan menuntut ilmu-Mu, ya Allah. Permudahkanlah segala urusan Iman ya Allah.

Amin.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

      Pagi ini kuliah tamat sedikit awal. Biasanya pukul 11.20 pagi baru kuliah untuk sesi pagi tamat, namun sekarang baru pukul 11.03 pagi. Seperti biasa, Iman akan ke perpustakaan untuk mengisi kekosongan masa yang ada sebelum masuknya waktu Zuhur.

“Assalamu’alaikum, Raudhah,”
“Wa’alaikumussalam warahmatullah. Eh, awal Iman habis kelas pagi ini?”
Ha’ah. Sir. Malik lepaskan awal. Ada hal emergency, katanya,”
Ha.. Jangan-jangan zaujah dia bersalin kot,”
Eh? Zaujah dia hamil ya sebelum ni?”
Oh, sir tak beritahu kamu semua ke? Dia ada cerita di dalam kelas kami yang zaujah dia sudah sarat mengandung bulan lepas,”
Hmm.. Sampai hati sir tak beritahu pada kelas kami,” Iman mencebik.
Alah. Tak apalah. Kan Raudhah dah beritahu ni. Nanti Iman sampaikanlah kepada yang lain ya,” balas Raudhah. Seperti biasa, tak lekang dengan senyuman manisnya. Ya Rabbi, damainya wajah Raudhah.

      Seindah namanya, seelok tuannya. Raudhahlah satu-satunya insan yang Iman percaya di sini, selepas Along & Amin. Dialah ahli keluarganya di sini. Rakan sebilik, teman seusrah. Dialah yang selalu mengingatkan bila diri terlalai seketika, dialah yang menguatkan bila diri terasa lemah, dialah yang menghiburkan bila diri merindu orang jauh & orang yang amat jauh. Ya, masih wujud insan yang baik sepertinya di dunia ini. Masih ada !

      Iman, dahulunya pernah menyangka bahawa semua manusia di dunia ini tak mengenalinya & tak menghiraukannya. Namun ternyata sangkaannya meleset sama sekali. Saat dia hampir tersungkur itu, ada insan yang sudi berkongsi susah & resah. Menghulur penawar racun derita. Mengubat hati yang duka sengsara. Kini, bila dia bersedih, dia tak lagi bersendiri. Ada insan yang sudi menemani. Luahkan saja padanya, dia pasti sudi menerima. Masih wujudkah insan semulia Raudhah, di dunia?

Tapi, sejauh mana hebatnya manusia,manusia tetap manusia.

Raudhah juga punya cerita dukanya.

Cerita derita yang menjadikan dia Raudhah yang Iman hormati & sayangi.
Cerita sengsara yang tak semua manusia bisa menerima.
Cerita yang masih selamat disimpan hingga kini dari pengetahuan Iman.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

bersambung, insya-Allah..
Stay blessed in Rahmatillah.. :)

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

* bold --> tidak sesuai untuk kegunaan rasmi
* italic --> bahasa asing

[ saya nak baca Pelangi Iman [part 3] ]

2 comments :

  1. lepas ni sambung sikit2. boleh lah jadi novelis pulak.

    ReplyDelete
  2. @aku-bukan-robot. insya-Allah.. ada masa, akan diusahakan.. tapi jadi novelis tu bukan untuk karier sebenarnya.. nak tulis suka-suka tu bolehlah.. :)

    ReplyDelete

Kata-kata anda amat berharga..! =D

Komen Terkini

Recent Comments Widget