Newsletter



Selamat datang ke blog personal Alfi Ramadhani. Moga apa yang tertulis di sini membawa kebaikan. Andai ada salah & silap, teguran anda semua sangatlah diharapkan. Selamat membaca! :)

Monday, October 22, 2012

Pelangi Iman [part 3]

8 comments :
[ saya belum baca Pelangi Iman [part 1] ]
[ saya belum baca Pelangi Iman [part 2] ]

“Hello, assalamu’alaikum,”
“Wa’alaikumussalam warahmatullah. Apa khabar, sayang..?”
“Alhamdulillah, masih boleh telefon mama Mila ni, kira sihat la ni.. Kekeke..”
“Amboi, ada ke cakap macam itu,”
Ops, sorry.. Mama Mila pula macam mana ?”
Alhamdulillah, macam angah la.. Kalau sayang mama sihat, sihat la mama. Kalau sayang mama demam, mama pun rasa nak demam,”
Haha.. Ada pula macam tu.. Kalau macam tu, angah tak boleh nak sakitlah, sebab angah tak nak mama Mila sakit juga,”
“Ada-ada saja la kamu ni, sayang.. Ha, ni tak ada angin tak ada ribut tiba-tiba call mama ni kenapa? Mimpi dapat titah dari Sultan ke untuk call mama malam ni?”
Ala mama Mila ni, orang nak lepaskan rindu kat orang sana, tak boleh ke?”
“Mama pun nak bergurau dengan sayang mama, tak boleh ke..?”

      Masing-masing ketawa. Kemudian sunyi sejenak, sebelum Iman menyambung perbualan,



“Mama Mila, adik & along apa khabar? Diorang ok tak?”
“Alhamdulillah, ok saja sayang. ”
Hmm.. Tak ada apa-apa berita baru ke dari rumah?”
Emm.. Rasanya ada.. Tapi angah cerita la berita pasal angah dulu.. Lepas tu baru mama bawa berita dari rumah.. Hihi..”
Lorh.. Angah mana ada berita sangat pun.. Hidup macam ni je la hari-hari.. Pergi kelas, balik kelas.. Pergi kelas, balik kelas..”
“Mana boleh macam tu... Hidup orang Muslim ni hari esoknya kena lebih baik daripada semalam kan..”
Ouch. Allright, noted that, mama Mila,” Ambil kau Iman. Kan dah kena sedas.
Ok. Mama ada berita gembira sebenarnya ni,”
“Eh? Berita apa? Cepat la cerita ! Cepat la !”
Ya Rabbi, sayang mama ni. Cuba bawa bersabar sikit,”
Ok. As-Sobru minal-iman. Noted that.
“Tahu pun.”
“Jadi, apa ceritanya?”
“Mama dah lama simpan perkara ni. Tapi, memandangkan dah nak masuk cukup bulan dah, mama kena la bagitahu kamu semua juga,”
“Apa dia mama Mila? Saja je buat orang suspens tau,”
Ye la.. Ye la..
Jeda seketika. Iman dah berpeluh di sana. Macam menanti pengisytiharan apa saja gayanya.
“Iman akan dapat adik baru nanti,”
“Hah?!”

- - - - - - - - - -- - - - - - -- - - - - - - - - -- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

      Iman membuka pintu bilik untuk masuk. Hanim masih tekun membuat pre-reading Bab 2 untuk subjek The Islamic Worldview di meja belajarnya. Raudhah sudah lena dibuai mimpi. Cepat betul sahabatnya yang seorang ni tidur. Compartment Jannah pula masih kosong tanpa orang.

“Jannah mana ye, Hanim? Tak balik-balik sejak pagi tadi lagi.”
“Dia dah balik tadi. Dia keluar ke bilik air sekejap,”
“Oh,”
“Iman pun, baru sekarang nampak batang hidung. Ke mana seharian ni?”
“Dari pagi sampai petang ke kelas macam biasa. Malam ni pula siapkan group assignment dengan ahli-ahli kumpulan yang lain. Tu yang balik lambat tu. Hehe..”
“Patutlah.. Nak teh? Hanim bancuhkan chamomile tea. Muka Iman nampak letih sangat tu,”
Eh, tak apa.. Tak apa.. Iman pun baru balik dari kafe tadi.. Dah kenyang.. Nak tidur sekarang.. Hihi..”
Ish ish ish, anak dara seorang ni.. Ada ke makan berat-berat malam-malam.. Lepas tu nak terus tidur.. Elok sangat la tu..” Hanim mula bercekak pinggang. Dah macam mama Mila pula gayanya. Hihi.
Ala, petang tadi tak sempat nak dinner.. Terpaksa.. Ampun.. Ampun..”
“Nasib baik Odah dah tidur.. Kalau tak mesti hidung tu dah kena tarik dengan dia..”
“Nasib baik dia dah tidur.. Kalau tak mesti dia tarik hidung Hanim sebab panggil dia Odah..”

Raudhah memang tak berapa gemar orang memanggilnya dengan nama selain Raudhah. ‘Odah’ ke, ‘Dah’ ke, ‘Udah’ ke, mesti kena cubit la lepas tu. Tak ada maksud katanya. Sudah elok-elok mak ayah beri nama comel-comel, panggillah dengan nama itu. Kenapa nak beri nama baru pula?

Pintu bilik dibuka. Jannah masuk dengan kepala berbalut tuala. Tangan kanannya memegang mug berisi air coklat panas. Mmm.. Aroma hot chocolate dia sedap sangat..
Eh, Iman.. Baru nampak muka. Sihat?” sapa Jannah sambil buat muka comel. Seorang lagi roommate osem yang Allah kurniakan buat seorang Iman. Diorang semua memang terbaik !

Ahaha. Alhamdulillah, sihat, kenyang.. Cuma haus sikit je.. eh, ”
Haha.. Dah agak.. Nah, jemputlah minum, tuan puteri .. Kekeke..”
“Eh, tadi Hanim nak buatkan air, Iman tak nak..” Hanim mencebik.
Alala.. Tadi rasa macam dah tak haus.. Tiba-tiba Jannah masuk bawa hot choc rasa teringin pula.. Hihi..”
“Merajuk..” Hanim buat muka. Jannah dah ketawa terkekeh-kekeh. Iman merangkul bahu Hanim erat-erat.
Ala.. Hanim sayang.. Jangan la macam ni.. Iman minta maaf ya.. Alololo.. Sayang sama kamu ketat-ketat..”
“Iman ! Dah.. Dah.. Hanim tak boleh bernafas ni.. Adoi..
“Siapa suruh merajuk.. Tak mau lepas.. Tak mau..”
“Iman… Hanim marah nanti.. Nak?”
“Kalau marah sayang seribu kali pun Iman nak.. haha..”
“Iman.. Nanti kalau pengsan kawan kita tu, Jannah tak bersalah ya..” Jannah dah duduk di kerusinya. “Kalau nak hot choc ni minum la cepat.. Kalau lambat, nanti dah tak jadi hot choc dah..”
“Ok..” Akhirnya Iman melepaskan Hanim. Hanim masih buat muka macam tadi.
“Nak tidurlah.” Hanim merebahkan badannya di atas katil sambil menutup muka dengan bantal.
Sweet dream, sayang.. Keke..” Iman masih belum puas mengusik Hanim. Hanim buat tak layan.

Bilik sepi seketika. Iman bangun dari kerusi Hanim. Cukup-cukuplah mengusik Hanim. Hihi.. Nak minum hot choc Jannah pula.

"Tak apa ke Iman minum ni..? Tak cukup karang.. Hee.."
"Baca bismillah dulu. Kalau bancuh satu jag pun tak semestinya cukup kalau tak ada berkat. Kalau ada berkat, insya-Allah satu cawan kongsi ramai-ramai pun cukup," balas Jannah bersama senyuman. Ya, betul sangat-sangat apa yang Jannah kata. Nabi dulu potong-potong sebiji labu kemudian kongsi dengan para sahabat, cukup untuk buat semua kenyang. Kongsi seekor daging kambing untuk makanan semua para sahabat ketika perang. Tapi kita sekarang, melahap sepinggan nasi pun belum tentu kenyang. Isk.

“Iman,” Hanim bersuara tiba-tiba.
“Ya?”

Hanim menarik bantal dari muka, lalu memandang wajah Iman.

“Pagi esok minum camomile tea Hanim tau,”

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

bersambung, insya-Allah..
Stay blessed in Rahmatillah.. :)

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

* bold --> tidak sesuai untuk kegunaan rasmi
* italic --> bahasa asing

[saya nak baca Pelangi Iman [Istimewa Jumaat]]

8 comments :

  1. wah. mencurah-curah idea anda.
    semoga ia bermanfaat buat islam.

    ReplyDelete
  2. comelnya lukisan... cerita pun best... done follow here :) - Noob

    ReplyDelete
  3. Bila nak sambungnya ni? ke dah habis?

    ReplyDelete
  4. @Anonymous uh. belum ada masa nak merangka idea baru.. insya-Allah akan ada juga sambungannya nanti..

    ReplyDelete

Kata-kata anda amat berharga..! =D

Komen Terkini

Recent Comments Widget